Kebodohan Adalah Sumber Perpecahan

Dalam perjalanan sejarah umat manusia kebodohan adalah musuh setiap umat. Kebodohan adalah sumber perpecahan. Kebodohan adalah masalah utama setiap kasus ketertinggalan, keterbelakangan, dan segala ketidak beresan. Menegaskan rendahnya kebodohan dan ketidaktahuan serta perbandingannya dengan sikap berpengetahuan, Allah berfirman: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS: 39 : 9)

Kebodohan Tidak Dapat menyelesaikan masalah

Bodoh adalah tidak tahu. Namun, orang yang tahu - mengetahui suatu hal - tetapi tidak melakukan dan tidak merealisasikan pengetahuannya juga dapat dikategorikan bodoh. Di negara-negara maju teguran yang paling tepat untuk mereka yang tidak taat aturan adalah “are you stupid?” Tidak sebagaimana di Indonesia -tidak semua lapisan tentunya- yang justru menganggap mereka yang tidak berhelm saat bermotor, melanggar rambu-rambu lalu lintas, bahkan setingkat korupsi, sebagai pemberani, hebat! Bahkan pahlawan!

Ketika seseorang dalam keadaan bodoh (tidak tahu), maka pada dasarnya ia tidak berhak sama sekali untuk urun rembug; angkat bicara dalam hal yang tidak diketahuinya itu. inilah hikamah (sikap arif dan bijak) yang hanya sebgaian kecil orang dapat berdiri tegak dalam posisi ini. “Al shumtu hikmatun wa qalilun fa’iluhu”. Silence is golden. Apabila batasan ini dilampaui, maka yang terjadi adalah subjektivitas penilaian, komentar yang sumbang dan - sudah pasti - kongklusi yang tidak objektif. Ini awal permusuhan, awal pertikaian, awal ketidakharmonisan sebuah jalinan ukhuwah. Sungguh ketidaktahuan harus disikapi dengan penuh kehati-hatian dan kearifan.

Selanjutnya, diambil langkah-langkah konkrit untuk mengubah sifat bodoh tersebut, baik oleh si bodoh maupun orang di sekelilingnya karena tanggung jawab memberantas kebodohan tidak hanya dipikul oleh pribadi setiap yang bodoh melainkan juga kewajiban bagi setiap anggota masyarakat demi mewujudkan komunitas yang pandai demi kebaikan serta maslahat bersama. Ketika sebuah masyarakat merelakan kebodohan menyelimuti setiap individu di dalamnya, maka kemajuan dan kemakmuran hanya menjadi mimpi never come true. Sungguh, kebodohan secara jelas telah menghalangi lajunya perkembangan masyarakat atau malah menjadikannya terbelakang di tengah dinamika kehidupan umat.

Kebodohan pada suatu saat dapat melahirkan sikap permusuhan yang berlebihan. Bukan sekedar tidak suka atau benci, melainkan memusuhi. Lihat saja negara-negara Barat yang tidak tahu (bodoh terhadap) Islam. Mereka selalu saja melihat Islam sebagai sebuah ideology yang mengancam (threaten ideology), sebuah ajaran yang meakutkan. Ini adalah sebuah kebodohan. Atau, lihat saja mereka yang mengomentari sesuatu yang sebenarnya belum diketahuinya secara pasti, maka yang dapat dipastikan adalah bahwa objektivitas komentarnya tidak dapat mendominasi persepsi subjektivitas. Ini berbahaya! Ini adalah awal munculnya kesalahan dan kebodohan yang pada gilirannya nanti, besar kemungkinan (untuk tidak mengatakan pasti) akan menyebabkan sebuah permusuhan.

Konsep dakwah yang dirancang Islam adalah proses pengenalan, agar dikenal, agar diketahui, dan agar dipahami. Sehingga meskipun -barangkali- tidak diikuti namun ia tidak dimusuhi. Atau setidaknya memperkecil sikap permusuhan itu. sebab, pada umumnya adanya intensitas permusuhan atau ketidaksukaan adalah karena kebodohan dan ketidaktahuan. Dalam peribahasa disebutkan tak kenal, maka tak cinta.

Kebodohan memang tidak selalu identik dengan kecerdasan intelektual, melainkan lebih mengarah kepada kecerdasan emosional yang melahirkan sikap ketidaktahuan yang tumbuh menjadi sebuah kebodohan itu sendiri. Bisa jadi karena tidak mau belajar, atau tidak mau membaca; yakni membaca apa saja dari ayat-ayat quraniyah dan kauniyah yang ada di alam semesta. Orang yang enggan membaca dalam pengertian di atas, sama sekali tidak paham bahwa kativitas tersebut adalah kunci segala pengetahuan.

Dengan berpengetahuan, seseorang telah terselamatkan dari perangkap kebodohan dan perilaku bodoh. Dengan berpengetahuan ia telah merapatkan dirinya kepada sikap arif dan bijaksana serta menyongsong janji Allah; “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengerahuan beberapa derajat” (QS: 58: 11)

Sedangkan dengan kebodohan seseorang telah menyeret dirinya ke kubang kezaliman. Betapa tidak, ia memusuhi sesuatu yang tidak ia ketahui serta membenci sesuatu yang tidak ia kenal. Dan selanjutnya, besar kemungkinan kebodohannya akan merugikan orang atau kelompok lain bahkan dapat menimbulkan kerusakan yang berakibat hilangnya maslahat. Maka agar tidak muncul kebencian jalinlah tali perkenalan. Agar tidak meletup api permusuhan, alirkan dan siramkanlah air pengetahuan. Berpengetahuanlah agar kamu tidak berperilaku bodoh.

Previous
« Prev Post
Add CommentHide

Back Top